Getaran Gempa Bumi yang mengguncang Flores dan sejumlah wilayah NTT memaksa ribuan keluarga menghadapi kenyataan pahit: dinding retak, atap runtuh, hingga rumah yang tak lagi aman dihuni. Di tengah situasi darurat, kabar mengenai skema Bantuan pemerintah untuk Perbaikan Rumah menjadi penopang harapan, terutama bagi Korban Gempa yang harus menata ulang hidup dari titik nol. Pemerintah melalui BNPB menyiapkan dukungan finansial yang dibedakan berdasarkan tingkat kerusakan—Rp 15 Juta untuk kategori rusak ringan dan Rp 30 Juta untuk kategori rusak sedang—sementara kerusakan berat diarahkan pada pembangunan hunian yang lebih permanen setelah verifikasi.
Namun, angka bantuan hanyalah satu bagian dari cerita besar. Di lapangan, proses pendataan, verifikasi, hingga distribusi Dana Bantuan menentukan apakah program benar-benar menyentuh warga yang tepat. Masyarakat juga dihadapkan pada pertanyaan praktis: bagaimana membelanjakan dana secara efisien, bahan apa yang diprioritaskan, siapa tukang yang dipercaya, dan bagaimana memastikan rumah hasil perbaikan lebih tahan guncangan. Di balik itu, ada dimensi tata kelola—transparansi, akuntabilitas, serta koordinasi pusat-daerah—yang memengaruhi kecepatan Rehabilitasi. Artikel ini membedah skema bantuan, mekanisme pelaksanaan, strategi pemanfaatan dana, hingga pelajaran kebijakan agar pemulihan di NTT tidak berhenti pada sekadar membangun kembali dinding, melainkan memulihkan rasa aman.
Skema Bantuan Perbaikan Rumah Korban Gempa NTT: Rp 15 Juta hingga Rp 30 Juta dan Logika Kategorinya
Skema Bantuan Perbaikan Rumah untuk Korban Gempa di NTT dirancang dengan prinsip sederhana: tingkat kerusakan menentukan besaran dukungan. Untuk Rumah Rusak kategori ringan, pemerintah menyiapkan Rp 15 Juta. Untuk kategori sedang, dukungannya naik menjadi Rp 30 Juta. Model bertingkat ini bertujuan menjaga keadilan, karena kebutuhan perbaikan retak dinding jelas berbeda dengan perbaikan struktur yang sudah melemah.
Dalam praktik lapangan, kerusakan ringan biasanya ditandai oleh retak pada dinding pengisi, kerusakan plafon, genteng bergeser, atau kusen pintu-jendela yang tak lagi presisi. Rumah masih bisa dihuni dengan kehati-hatian, tetapi tetap memerlukan tindakan cepat agar kerusakan tidak menjalar ketika hujan dan angin datang. Pada titik ini, Dana Bantuan Rp 15 Juta lazimnya digunakan untuk mengganti penutup atap, memperbaiki retakan dengan material yang tepat, dan memperkuat sambungan-sambungan kecil yang sering luput dari perhatian.
Sementara itu, kategori rusak sedang mengarah pada problem yang lebih serius: sebagian elemen struktural melemah, kolom atau balok menunjukkan retak yang mengkhawatirkan, atau ada penurunan kualitas sambungan yang membuat rumah tidak nyaman dan berisiko. Di sinilah bantuan Rp 30 Juta menjadi lebih relevan, karena perbaikan sering menuntut pembongkaran parsial, penguatan struktur, serta pekerjaan tukang yang lebih terampil. Bagi keluarga dengan pendapatan harian yang terbatas, selisih nominal ini menentukan apakah perbaikan bisa diselesaikan atau tertunda berbulan-bulan.
BNPB juga menekankan bahwa penyaluran bantuan dilakukan setelah pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan selesai. Artinya, besaran dana tidak sekadar diumumkan, tetapi harus melalui proses administrasi dan pengecekan di lapangan. Ini penting untuk mengurangi risiko salah sasaran, misalnya rumah yang sebenarnya rusak sedang tercatat ringan, atau sebaliknya. Dalam beberapa kejadian bencana sebelumnya, sengketa data sering memicu ketegangan sosial; karena itu verifikasi menjadi “pagar” kebijakan yang menentukan kelancaran pemulihan.
Untuk memperjelas pemetaan skema, berikut ringkasan kategori yang umum dipakai dalam program perbaikan rumah pascabencana.
Kategori Rumah Rusak |
Indikasi Kerusakan di Lapangan |
Besaran Dana Bantuan |
Contoh Prioritas Belanja |
|---|---|---|---|
Rusak ringan |
Retak dinding pengisi, genteng bergeser, plafon rusak, kusen berubah |
Rp 15 Juta |
Perbaikan atap, plester-aci retak, penggantian plafon, penguatan sambungan sederhana |
Rusak sedang |
Retak memengaruhi elemen tertentu, pembongkaran parsial diperlukan, rumah berisiko bila tidak diperkuat |
Rp 30 Juta |
Penguatan kolom/balok tertentu, perbaikan dinding utama, perbaikan rangka atap, pekerjaan tukang terampil |
Agar gambaran ini tidak berhenti pada konsep, bayangkan keluarga fiktif “Keluarga Lio” di Flores Timur. Rumah mereka masuk rusak ringan: atap bocor dan dinding retak memanjang. Dengan Rp 15 Juta, mereka memilih mengganti sebagian rangka atap dan memperbaiki retakan memakai campuran yang lebih baik daripada sekadar menutup dengan semen tipis. Sementara tetangga mereka, “Keluarga Sikka”, masuk rusak sedang karena kolom teras retak dan sebagian dinding harus dibongkar. Bagi mereka, Rp 30 Juta memberi ruang untuk membayar tukang yang mengerti penguatan sederhana, bukan sekadar tambal sulam.
Skema ini memberi pesan penting: bantuan bukan hanya soal nominal, melainkan soal menempatkan sumber daya pada titik kritis agar rumah kembali aman. Dari sini, pembahasan berlanjut ke hal yang paling menentukan: bagaimana verifikasi dilakukan dan bagaimana bantuan benar-benar sampai ke tangan warga.

Pendataan dan Verifikasi Rumah Rusak di NTT: Kunci Agar Dana Bantuan Tepat Sasaran
Dalam program Bantuan Perbaikan Rumah pascagempa, pendataan bukan sekadar kegiatan administratif; ini adalah mekanisme keadilan. Setiap rumah yang masuk daftar menentukan siapa yang menerima Dana Bantuan, berapa besarannya, dan kapan bisa mulai memperbaiki. Di NTT, proses ini penting karena dampak Gempa Bumi dapat menyebar tidak merata: satu desa mungkin mengalami banyak retak ringan, desa lain menghadapi kerusakan sedang hingga berat akibat kondisi tanah dan kualitas bangunan.
Secara umum, tahapan yang sering terjadi di lapangan dimulai dari laporan warga melalui RT/RW atau perangkat desa, kemudian petugas melakukan pengecekan visual. Setelah itu, ada pencatatan identitas pemilik/penanggung jawab rumah, lokasi, foto kerusakan, serta klasifikasi kerusakan. Tahap berikutnya adalah verifikasi—biasanya melibatkan unsur pemerintah daerah, tenaga teknis, dan koordinasi dengan BNPB—untuk memastikan kategori rusak ringan atau rusak sedang tidak “melenceng” karena tekanan sosial, salah paham, atau kekeliruan penilaian.
Salah satu tantangan paling nyata adalah membedakan retak kosmetik dengan retak yang memengaruhi kekuatan. Banyak warga menganggap semua retak sama berbahaya, padahal tidak selalu demikian. Retak halus pada plester bisa ditangani relatif mudah, tetapi retak diagonal besar pada elemen tertentu bisa menandakan pergeseran struktur. Karena itu, tenaga yang melakukan verifikasi sebaiknya punya panduan penilaian, sehingga Korban Gempa tidak dirugikan oleh penilaian yang terlalu cepat.
Di sisi lain, ada problem yang juga sering muncul: rumah yang sebenarnya rusak sedang dicatat ringan karena kerusakan struktural “tertutup” dinding tambahan atau plafon. Untuk mencegahnya, pemeriksaan perlu menyasar titik-titik kunci, misalnya sudut bangunan, sambungan kolom-balok, rangka atap, dan area yang menunjukkan penurunan. Ketelitian semacam ini berkorelasi langsung dengan efektivitas bantuan Rp 15 Juta dan Rp 30 Juta; salah klasifikasi bisa membuat dana kurang untuk memperbaiki, atau sebaliknya menimbulkan kecemburuan sosial.
Berikut daftar praktik yang biasanya membantu pendataan berjalan lebih tertib dan dipercaya warga.
- Dokumentasi foto dari beberapa sudut (dinding luar, dalam, atap, dan titik retak utama) agar penilaian bisa ditinjau ulang.
- Pemetaan sederhana per dusun untuk melihat konsentrasi kerusakan dan mengatur urutan penanganan.
- Rapat terbuka di tingkat desa untuk menjelaskan kriteria rusak ringan vs rusak sedang, mengurangi rumor.
- Mekanisme sanggah agar warga dapat mengajukan peninjauan bila merasa klasifikasi tidak sesuai kondisi.
- Transparansi daftar penerima (tanpa membuka data sensitif berlebihan) supaya komunitas ikut mengawasi.
Selain aspek teknis, pendataan juga harus memerhatikan realitas sosial. Misalnya, rumah yang dihuni lansia atau keluarga dengan anak kecil memiliki urgensi berbeda karena risiko kesehatan. Ini bukan berarti menabrak aturan kategori, melainkan menata prioritas kerja dan pendampingan. Keluarga “Lio” dalam contoh sebelumnya bisa menunggu tukang seminggu, tetapi keluarga “Sikka” yang rumahnya berisiko mungkin perlu hunian sementara atau penguatan darurat lebih cepat.
Diskusi tentang verifikasi juga relevan dengan isu lintas daerah. Warga sering membandingkan bantuan antarwilayah, sehingga pemerintah perlu berkomunikasi jelas bahwa skema di NTT mengikuti kerangka tertentu. Sebagai konteks, publik bisa melihat bagaimana daerah lain mengelola perluasan bantuan sektor berbeda, misalnya program dukungan ekonomi di kebijakan bantuan untuk nelayan kecil yang menekankan ketepatan sasaran dan pendataan kelompok penerima. Walaupun sektor dan kebutuhannya berbeda, prinsip akuntabilitasnya serupa.
Ketika data sudah kokoh, proses berikutnya adalah memastikan dana dipakai dengan cerdas dan aman. Sebab bantuan tunai tanpa strategi belanja berisiko berakhir pada perbaikan yang cepat rusak kembali saat guncangan susulan terjadi.
Strategi Memanfaatkan Bantuan Rp 15 Juta dan Rp 30 Juta untuk Perbaikan Rumah yang Lebih Tahan Gempa
Menerima Dana Bantuan adalah awal, bukan akhir. Tantangan berikutnya bagi Korban Gempa di NTT adalah mengubah uang tunai menjadi perbaikan yang nyata, rapi, dan meningkatkan keselamatan. Pada banyak kasus, keluarga tergoda membagi dana untuk kebutuhan lain yang mendesak—biaya sekolah, konsumsi, atau membayar utang—yang sangat manusiawi. Namun, jika Perbaikan Rumah ditunda terlalu lama, kerusakan ringan bisa berubah menjadi sedang karena hujan, angin, dan pelapukan material.
Untuk penerima Rp 15 Juta, strategi paling masuk akal adalah fokus pada “titik masuk air” dan “titik lemah sambungan.” Contohnya, mengganti genteng pecah memang penting, tetapi lebih penting lagi memastikan rangka atap terikat dengan baik dan tidak hanya “ditumpukan.” Banyak rumah sederhana di wilayah rawan gempa dibangun dengan teknik yang mengandalkan berat material, bukan ikatan. Saat guncangan datang, bagian yang tidak terikat mudah terlepas. Jadi, sebagian dana sebaiknya dialokasikan pada pengikat, perkuatan sederhana, dan perbaikan retak dengan prosedur yang benar—bukan sekadar menutup retak agar tampak bagus.
Untuk penerima Rp 30 Juta, ruang geraknya lebih besar, tetapi risikonya juga meningkat karena pekerjaan lebih kompleks. Rumah rusak sedang sering membutuhkan pembongkaran parsial. Di sinilah keluarga perlu membedakan “hemat” dengan “murah.” Memakai tukang yang tidak paham perkuatan mungkin terlihat mengurangi biaya, tetapi berisiko membuat rumah kembali rapuh. Pendampingan teknis, bila tersedia, perlu dimanfaatkan agar pemilik rumah mengerti prioritas: elemen struktur, bukan ornamen.
Keluarga “Sikka” misalnya memilih membagi pekerjaan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah membuat rumah aman dihuni: memperkuat satu kolom teras, memperbaiki dinding utama yang retaknya menganga, dan memastikan rangka atap tidak melendut. Tahap kedua—yang bisa menunggu—adalah perapian estetika seperti pengecatan ulang. Strategi bertahap ini membantu menjaga anggaran tetap terkendali. Pertanyaannya, bagaimana menyusun prioritas belanja secara praktis?
Prioritas belanja yang realistis untuk rumah rusak ringan
Pada rusak ringan, pendekatan “perbaiki kebocoran, amankan sambungan, rapikan retak” biasanya efektif. Bila retak hanya di plester, perbaikan dilakukan dengan membersihkan retak, menambahkan perekat yang sesuai, lalu menutup kembali dengan campuran yang tepat. Apabila retak berulang, itu sinyal ada pergerakan; pemilik rumah perlu memeriksa area yang memicu retak, misalnya pertemuan dinding dengan kolom.
Dengan Rp 15 Juta, keluarga dapat menegosiasikan biaya tukang harian dan membeli material secara bertahap. Strategi belanja bertahap mengurangi risiko pembelian material yang salah spesifikasi atau menumpuk lalu rusak kena hujan. Warga juga bisa membentuk pembelian kolektif satu kampung untuk mendapatkan harga lebih baik, terutama untuk semen, pasir, atau pengikat atap.
Penguatan sederhana untuk rumah rusak sedang agar tidak berulang
Untuk rusak sedang, pekerjaan paling krusial biasanya berada pada penguatan elemen tertentu. Misalnya, memperbaiki sambungan rangka atap, memperkuat dinding yang menjadi penopang, dan memastikan beban tidak bertumpu pada titik yang sudah retak. Dengan Rp 30 Juta, pemilik rumah dapat mengalokasikan porsi lebih besar pada pekerjaan struktural. Jika dana masih kurang, pendekatan paling bijak adalah memperkecil luas pekerjaan tetapi menuntaskan kualitasnya, bukan memperluas pekerjaan dengan kualitas setengah-setengah.
Di beberapa daerah, warga juga mengombinasikan bantuan dengan gotong royong. Model ini bukan sekadar romantisme budaya; gotong royong menekan biaya nonmaterial, seperti bongkaran dan angkut. Namun, gotong royong perlu tetap dipandu tukang berpengalaman agar standar keselamatan terjaga.
Pengalaman pemulihan sosial di wilayah lain menunjukkan bahwa tata kelola bantuan akan makin kuat jika program sosial dan layanan publik ikut beradaptasi. Sebagai perbandingan, artikel tentang praktik penyaluran bantuan sosial di Medan menyoroti pentingnya ketertiban data penerima dan pola komunikasi yang mengurangi kebingungan warga. Konteksnya berbeda, tetapi pelajaran tentang disiplin administrasi dan pendampingan sangat relevan untuk pemulihan rumah pascabencana.
Jika strategi belanja sudah jelas, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat memastikan prosesnya transparan dan terlindungi dari penipuan, mark-up, atau pemotongan. Di sinilah tata kelola Rehabilitasi menjadi krusial.
Transparansi dan Pengawasan Dana Bantuan: Mencegah Salah Sasaran dan Mempercepat Rehabilitasi di NTT
Dalam situasi pascabencana, kecepatan penyaluran bantuan sering menjadi sorotan. Namun, tanpa pengawasan yang rapi, Dana Bantuan bisa memunculkan persoalan baru: dugaan pemotongan, penerima fiktif, hingga konflik antarwarga. Karena itu, tata kelola program Bantuan Perbaikan Rumah harus dipahami sebagai bagian inti dari Rehabilitasi, bukan beban birokrasi.
Transparansi idealnya hadir sejak awal, dimulai dari penjelasan terbuka tentang kriteria rusak ringan dan rusak sedang, lalu bagaimana nominal Rp 15 Juta dan Rp 30 Juta ditetapkan. Setelah itu, daftar penerima perlu diumumkan di tingkat komunitas dengan cara yang tidak melanggar privasi, misalnya menampilkan nama kepala keluarga dan alamat singkat tanpa memuat data sensitif lain. Praktik seperti ini membuat warga bisa ikut mengoreksi bila ada rumah yang seharusnya masuk daftar tetapi terlewat, atau bila ada kejanggalan.
Pengawasan juga menyangkut proses penyaluran. Banyak daerah memilih mekanisme transfer, karena lebih aman dan mengurangi risiko uang tunai berpindah tangan tanpa jejak. Bila ada penyaluran tunai pada kondisi tertentu, prosedurnya harus memiliki bukti serah terima yang jelas dan disaksikan perangkat setempat. Warga perlu mendapatkan informasi sederhana: kapan dana cair, melalui kanal apa, dan dokumen apa yang dibutuhkan. Ketidakjelasan informasi sering menjadi celah bagi calo atau pihak yang mengatasnamakan “pengurus bantuan.”
Di lapangan, pengawasan tidak selalu berarti audit formal. Pengawasan sosial berbasis komunitas bisa sangat efektif, terutama di desa yang ikatan sosialnya kuat. Misalnya, kelompok pemuda desa membantu memotret progres perbaikan rumah penerima bantuan secara berkala, lalu melaporkan bila ada rumah yang tidak diperbaiki sama sekali meski dana sudah cair. Pendekatan ini tentu perlu sensitif: tujuan utamanya mendorong perbaikan berjalan, bukan mempermalukan warga yang mungkin punya kendala kesehatan atau tenaga.
Risiko umum dalam penyaluran bantuan dan cara menguranginya
Beberapa risiko berulang dalam program bantuan pascabencana dapat ditekan dengan langkah praktis. Pertama, risiko salah kategori kerusakan yang berujung pada ketidakadilan. Ini bisa dikurangi dengan mekanisme sanggah dan peninjauan ulang. Kedua, risiko pemotongan dana oleh oknum. Cara menguranginya adalah memastikan warga memahami haknya: Rp 15 Juta atau Rp 30 Juta harus diterima utuh sesuai ketentuan, kecuali ada skema yang benar-benar legal dan disepakati (misalnya pembelian material kolektif yang transparan).
Ketiga, risiko kualitas pekerjaan yang buruk. Program bantuan sering berorientasi “yang penting selesai,” padahal rumah yang tidak diperbaiki dengan benar bisa menjadi lebih berbahaya pada guncangan berikutnya. Karena itu, pendampingan teknis—meski sederhana—perlu hadir, misalnya lewat pelatihan singkat bagi tukang lokal atau lembar panduan ringkas tentang penguatan sambungan. Kualitas bukan berarti mahal; kualitas berarti tepat pada titik kritis.
Keempat, risiko keterlambatan karena rantai pasok material. Di wilayah kepulauan, harga dan ketersediaan material bisa berubah cepat. Pemerintah daerah dapat membantu dengan mengkoordinasikan pemasok, memastikan jalur distribusi lancar, dan mendorong pembelian kolektif yang transparan agar harga tidak melonjak ekstrem. Pada tahap ini, pembelajaran dari sektor layanan publik juga berguna. Misalnya, gagasan digitalisasi layanan kesehatan di Palembang menekankan pemanfaatan data dan sistem antrean untuk mengurangi hambatan layanan; prinsip “membuat proses terlihat dan terukur” bisa diadaptasi untuk memantau progres perbaikan rumah dan status pencairan bantuan.
Pengawasan yang sehat pada akhirnya mempercepat pemulihan. Warga yang percaya prosesnya adil cenderung kooperatif, sementara aparat yang bekerja dengan data yang rapi lebih mudah mengatasi protes. Setelah tata kelola berjalan, fokus berikutnya adalah dampak sosial-ekonomi: bagaimana bantuan perumahan memulihkan aktivitas keluarga, sekolah anak, dan roda ekonomi kampung tanpa menimbulkan ketimpangan baru.
Dampak Sosial-Ekonomi Bantuan Perbaikan Rumah bagi Korban Gempa NTT: Dari Rasa Aman hingga Pemulihan Penghidupan
Perbaikan Rumah pascagempa sering dipahami sebagai urusan fisik: semen, pasir, atap, dan tukang. Padahal, bagi Korban Gempa di NTT, rumah adalah pusat aktivitas ekonomi keluarga, ruang belajar anak, dan tempat merawat anggota keluarga yang rentan. Ketika rumah rusak, yang terganggu bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga produktivitas. Karena itu, Dana Bantuan Rp 15 Juta dan Rp 30 Juta memiliki dampak berlapis, terutama bila disalurkan tepat waktu.
Dari sisi psikologis, rumah yang retak dan atapnya tidak aman menciptakan kecemasan harian. Banyak keluarga memilih tidur di luar atau menumpang, yang berarti kualitas istirahat menurun, anak sulit fokus sekolah, dan orang dewasa kesulitan kembali bekerja penuh. Ketika perbaikan dasar selesai—meski belum sempurna—rasa aman mulai pulih. Di sinilah nilai bantuan menjadi nyata: bukan sekadar “uang perbaikan,” tetapi pemulihan rutinitas.
Dari sisi ekonomi lokal, program perbaikan rumah memicu perputaran uang di desa. Tukang, penjual material, pengangkut pasir, hingga warung makan kecil ikut terdampak positif. Namun, efek ini bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak dikelola. Permintaan material yang tiba-tiba dapat mendorong kenaikan harga. Karena itu, koordinasi komunitas seperti pembelian kolektif atau penjadwalan perbaikan bertahap per RT dapat membantu menstabilkan harga dan menghindari persaingan tidak sehat antarwarga.
Kembali ke kisah “Keluarga Lio,” setelah menerima Rp 15 Juta, mereka memprioritaskan atap dan retak dinding, lalu mengajak dua saudara untuk membantu bongkaran. Hasilnya, biaya tenaga kerja turun dan dana bisa cukup hingga pemasangan pengikat atap tambahan. Dalam dua minggu, anak mereka bisa kembali belajar di kamar tanpa khawatir hujan. Sementara “Keluarga Sikka” dengan Rp 30 Juta memilih mengerjakan bagian struktur dulu, menunda pengecatan. Mereka juga sepakat dengan tetangga menggunakan tukang yang sama agar kualitas pekerjaan seragam dan tukang bertanggung jawab terhadap hasilnya. Pola keputusan seperti ini menunjukkan bahwa bantuan menjadi lebih berdampak ketika ada strategi dan solidaritas sosial.
Menjembatani bantuan rumah dengan kebutuhan lain yang sama mendesak
Meski program bantuan rumah fokus pada hunian, korban bencana sering memiliki kebutuhan lain: biaya kesehatan, transportasi, dokumen yang hilang, dan kebutuhan pangan. Tantangannya adalah menjaga agar bantuan rumah tidak “bocor” sepenuhnya untuk kebutuhan lain, tanpa menghakimi keluarga yang sedang terdesak. Di sinilah peran pemerintah daerah dan komunitas menjadi penting untuk menghubungkan berbagai program: bantuan sosial, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial. Ketika bantuan lintas sektor terkoordinasi, keluarga tidak perlu mengorbankan perbaikan rumah demi kebutuhan harian.
Hal yang tak kalah penting adalah memastikan rumah hasil perbaikan tidak mengulang kerentanan yang sama. Gempa Bumi tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa ditekan melalui kebiasaan membangun yang lebih aman. Jika bantuan Rp 15 Juta dan Rp 30 Juta menghasilkan rumah yang “sekadar tampak bagus” tanpa penguatan, maka siklus kerusakan berpotensi berulang. Karena itu, pemulihan yang baik selalu menggabungkan dana, pendampingan, dan perubahan perilaku konstruksi di tingkat rumah tangga.
Ketika rasa aman mulai kembali dan ekonomi kampung bergerak, pemulihan memasuki tahap yang lebih dewasa: membangun ketahanan jangka panjang, termasuk kesiapsiagaan keluarga, pemetaan risiko desa, dan standar perbaikan yang makin baik. Insight akhirnya jelas: bantuan paling efektif adalah bantuan yang mengubah cara membangun, bukan hanya membiayai bangunan.